Siapapun kamu, Catlya!
Sembilan !! Buat saya angka segitu pas banget untuk penampilan si Barbie. Oo ya, Barbie yang ini bukan Barbie boneka yang senang berpakaian mahal, tapi julukan yang saya beri buat seorang gadis : "The Real Beautiful Girl". Saya, yang kata orang punya selera tinggi, memang betul mengakui kalau gadis itu cantik. Tulang pipinya seperti milik Nadya Hutagalung, unik. Bibirnya seperti Laura, penuh. Kulitnya setransparan Ida Iasha, matanya coklat seperti....
Ups, jarum jam sudah bergerak sepuluh menit sejak saya berdiri di halte dekat rumah ini, tapi ke mana angkot biru itu! Halte sudah sepi.Tinggal saya dan Barbie. Kami memang menunggu angkot yang sama. Barbie, yang baru dua hari jadi pelanggan halte, kelihatan tenang-tenang saja. Tuhan mendengar doa saya ! Angkot biru itu menepi. Rupanya sebelum tangan saya melambai, Barbie melakukannya lebih dulu.
***************
Lelah, saya baru dari Tanah Abang. Saya jadi akrab dengan tempat itu, semenjak hunting jilbab sebulan yang lalu. Di plaza dekat rumah paling cuma ada satu toko muslim yang menjual kerudung. Sudah biasa, pameran-pameran jilbab baru semarak kalau dekat lebaran. Kalau bulan-bulan seperti ini paling gampang ya, ke Tanah Abang. Meski pulang dari sana badan pegal semua dan rasanya ingin nyemplung ke bak mandi. Byuuuur!
Insya Allah, Senin depan saya hijrah ... kenapa mesti Senin ? Itu sama saja dengan menanyakan kenapa saya suka makan sup kimlo. Sama susahnya untuk dijawab. Sebenarnya keinginan suci itu sudah lama terpendam. Tapi baru terwujud sekarang saat saya tingkat dua. Rasanya tidak sahar menunggu hari kehijrahan. Saya memang sengaja buat surprise, yang tahu soal itu cuma mami seorang. Jadi semenjak sebulan ini saya berusaha nyicil jilbab sedikit demi sedikit. Saya juga rajin bertanya pada teman yang jilbaber bagaimana cara memakai jilbab, bla-bla-bla... Di rumah memang belum ada yang berjilbab, habis kakak saya cowok semua. Mami ? Lebih suka dengan kerudung Benazir-nya.
Pertama saya mencoba jilbab saat ke pengajian mingguan. Wah heboh, persiapannya lumayan lama sampai nasi goreng spesial Mbak Siti siap. Kalau sekarang sih saya sudah gape. Bahkan sudah tahu trik-triknya, misal kalau wudhu jilbab tidak perlu dilepas semua, tinggal dibalik.... Tapi tentu hijrah bukan berarti cuma mengganti pakaian saja. Saya tahu semua mesti dibarengi dengan menjilbabi hati. Saya memang perlu belajar banyak. Oya, ini sedikit catatan saya.
1. Ketawa jangan menggelegar lagi. Syukur ada sapu tangan Mr. Groovy yang kemarin saya beli. Lumayan buat membekap mulut saya bila kelepasan tertawa.
2. Jangan suka melirik cowok. Ooww. Berat, apalagi kalau cakep dan beralis tebal. Tapi saya coba.
3. Parfum, jangan sampai tercium ke mana-mana. Padahal Red Jeans, parfum hadiah dari tante saya yang pramugari itu baunya enak, lho. Tapi, saya coba juga. Dengan menyebut nama Allah ...
***************
Begitulah, dan Senin yang dinanti-nanti itu pun tiba. Saya bangun lebih awal dari weker. Pagi ini saya kuliah dengan perasaan beda. Swear, ada rasa lain. Entah apa, mungkin rasa damai yang sangat. Halte lumayan ramai. Ada Barbie. Kali ini dia memakai celana... Uff, saya tidak bisa bebas memperhatikannya. Barbie yang biasanya menatap jalan tanpa peduli dengan sekitarnya kini sedang memandang ke arah saya.
Saya? Tumben! What's wrong? Biasa dong, jangan GR. Pulang kuliah saya mendapat trik nomor sekian. Kalau sudah berjilbab jangan suka seradak-seruduk biar rok tidak kelibet. Maklum hari pertama, semua belum biasa. Muiai dari Barbie yang terus memperhatikan saya sampai teman-teman kampus yang memberi selamat tulus atau cuma bisik-bisik.
Saya agak bingung, dulu saat Rita teman kampus saya hijrah, tidak ada kejadian seperti tadi. Karena saya anak gunung? Atau karena saya tidak pernah muncul di rohis tapi tiba-tiba berjilbab? Atau.... Ah, biar saja, saya malas mengira-ngira. Terima kasih Allah, hidayah itu jadi milik Renita. Dan mudah-mudahan akan tetap menjadi milik saya. Sampai kapan pun, kalau Engkau menghendaki.
***************
Tiga bulan lebih saya berjilbab. Dan kesimpulan teman-teman PA (Pencinta Alam) adalah saya telah berubah. Tidak bisa apa adanya seperti dulu. Tidak 'inilah gue' lagi. Jarang datang kalau ada acara. Jangankan acara naik gunung, main sega di posko juga tidak pernah lagi. Giliran teman yang main ke rumah, saya dibilang ogah-ogahan. Jangan harap bisa nonton bareng atau jalan-jalan mencoba makanan resto Jepang.
"Gue kangen Renita yang dulu. Apa mesti begitu sih, Ren! Apa jilbab itu mesti membuat suasana ini jadi kaku? Apa mesti membuat kamu menjauh dari PA? Apa nggak bisa semua berjalan seperti dulu?! Toh kita juga tau batasan-batasannya ...," protes Kevin siang tadi. Well, saya bingung sekali, Tuhan. Hhhhh.... saya tahu semua ini akan terjadi. Mbak Ida pernah bilang ada saatnya kita harus berkorban untuk sesuatu yang lebih. Ya, dia telah melakukannya. Dia mengorbankan profesinya sebagai balerina. Lalu apa ini berarti, saya harus mengorbankan semua itu juga ? Rasanya saya sudah tahu jawabannya.
Selama ini saya telah dipusingkan dengan dana lomba panjat dinding di kampus. Sekarang kenapa mesti dipusingkan lagi dengan masalah kecil tadi. Saya memang telah menjabat sebagai korum lomba panjat dinding di kampus. Setelah protes datang dari teman-teman PA, saya tertantang menunjukkan bahwa jilbab tidak perlu menghalangi langkah saya. Tapi seiring dengan meningkatnya keaktifan di PA, keinginan-keinginan dulu seperti hilang begitu saja. Keinginan untuk menjadi bagian dari Keputrian. Keinginan untuk memperdalam ilmu Allah...
Saya yang dulu suka tertawa menggelegar, tetap suka melakukannya. Sapu tangan Mr. Groovy ? Entah lenyap kemana. Saya yang dulu selalu berbaur dengan cowok, tetap akrab bergaul. Saya yang dulu suka ngejins, sekarang kembali ngejins. Bedanya dulu di rambut saya ada jepit imut, sekarang tidak karena sudah tertutup jilbab. Kalau pantas dikenakan di jilbab, mungkin masih saya pakai. Ah. Tidak lucu sama sekali.
Barbie muncul lagi di halte ini setelah ..... mmm, lama juga dia menghilang. Hei, kemana saja kamu selama ini! Mata coklatnya kembali mengamati saya. Dia jadi suka memperhatikan saya. Tapi biar saja, suka-suka dia. Saya duduk di bangku halte, menyilangkan kaki yang dibalut celana jins. Melepaskan pandangan pada jalan-jalan yang masih sepi. Menikmati udara pagi yang masih jernih. "Saya lebih suka melihat kamu pake rok."
Komentar spontan itu mengusik kenikmatan saya. Dan ternyata si Barbie yang mengatakannya! "Jilbab salem ini lebih manis dipakai dengan rok kotak-kotak yang kamu pake saat itu." Dahi saya berkerut. Kenapa Barbie? Mengapa kamu menjelma menjadi pemerhati yang sukses seperti saya! Dan apa pula urusanmu dengan rok atau celana yang saya pakai? Angkot biru datang. Saya sengaja memilih tempat duduk di pojok.
"Saya pengen lihat kamu pake rok dulu lagi," Barbie pagi ini muncul lagi dengan komentar senada. "Waktu pertama kali kamu memakai rok biru bunga-bunga kecil dengan jilbab biru donker itu, saya suka sekali." Ya! Sejak saya hijrah, Barbie yang biasa saya perhatikan itu sekarang balik memperhatikan saya. Malah berani berkomentar tanpa basa-basi berkenalan. Eh, apa salahnya kalau saya yang memulai?
"Saya Renita, kamu siapa?" tanya saya sambil menyodorkan tangan, memulai perkenalan. Aneh. Padahal kita sudah lama ketemu. "Panggil saya Catlya!" Sekian basa-basinya. Sekarang langsung saja tanya kenapa si Barbie, eh Catlya itu suka mengomentari orang.
"He, malah bengong. Kamu mau kuliah?" seru Catlya.
"Iya."
"Telat sedikit nggak pa-pa khan? Nanti saya traktir di cafe pojok itu. Jangan takut, halal kok!"
Baru kali ini saya menemukan pribadi unik seperti Catlya. Belum kenal sudah mengomentari penampilan orang, sekarang baru semenit kenal sudah berani membujuk, nanti kalau sudah lama kenal bisa-bisa..... Saya penasaran! Jadi kenapa tidak bilang ya? Lagipula kuliah baru dimulai pukul 11.
Akhirnya saya dan Catlya duduk di cafe mungil dengan kopi dan sepotong Croissant di meja."Sorry, selama ini mungkin saya ngebingungin kamu. Saya emang nggak bisa dan nggak biasa basa-basi. Tapi semua yang saya katakan itu benar-benar keluar dari hati saya. Sungguh." Ucap Catlya sambil mengangkat dua jarinya yang penuh cincin perak. Kocak.
Sebelum saya sempat mengeluarkan kata-kata, Catlya buru-buru meletakkan telunjuk di bibirnya. "Saya nggak bermaksud menggurui penampilan kamu. Saya cuma ingin mengatakan pendapat saya, bahwa saya suka penampilan kamu yang dulu. Please, biarkan saya menyelesaikan pembicaraan."
Hening. Catlya terdiam. Perlahan mata yang tadi penuh bintang itu tampak redup. "Dulu, saya pernah berjilbab." Potongan keju lumayan besar tanpa sengaja saya telan.
"Hidayah itu datang begitu saja, membuat teman-teman yang kenal siapa saya tak habis pikir, lalu.... semua terjadi. Saya nggak tau secara pasti dimana letak kesalahannya. Padahal saya sempat merasakan menjadi muslimah sejati. Setiap hari hidup saya penuh dengan dakwah. Namun entahlah, saya tidak menemukan kebahagiaan itu seperti yang lainnya. Tiba-tiba saja semua jadi membosankan. Saya bosan bergamis, bosan dengan nasyid, bosan ke pengajian. Saya bosan menjadi orang lain! Hingga sisa masa lalu hanyalah jilbab yang melekat di kepala yang semakin mengecil, celana jins dan kaos asal tangan panjang, tidak peduli ketat atau tidak. Puncaknya saya mulai menginginkan kehidupan saya yang dulu...."
"Ya, kehidupan dimana dunia begitu ramah pada diri saya. Keindahan duniawi begitu mudah saya peroleh, semudah membalikkan tangan. Saya mulai merindukannya."
"Setiap menit kerinduan itu datang, setiap menit pula saya berusaha mencegahnya. Namun akhirnya hari-hari saya selalu dipenuhi dengan pikiran itu. Tak bosan-bosannya saya berandai, andai saya tidak memakai jilbab pasti saya lebih cantik. Ya, semua kecantikan itu telah tertutup meski dengan sehelai jilbab kecil. Akhirnya jilbab itu saya lepas ..." Kopi yang saya minum terasa lebih pahit. Batin saya beristighfar.
"Reaksi kampus? Jangan tanya kehebohannya. Keputrian puas memanggil saya, memperingati dari yang lembut hingga yang keras. Banyak teman yang mencemooh, tapi banyak pula yang memuji penampilan saya yang baru. Semua memang kembali seperti dulu. Kemana saya melangkah, semua mata memandang. Semua terjadi persis seperti apa yang saya mau. Kampus hanya membicarakan satu nama dengan pujian. Catlya." Bening itu menetes satu dari mata Catlya.
"Tapi, sungguh, dibalik semua itu ada perasaan lain yang hilang jauh terhempas. Di balik gemerlapnya dunia yang begitu ramah pada saya, ada dunia lain yang menghilang. Tak ada lagi perasaan aman yang menyertai langkah saya, tak ada lagi perasaan damai yang mengisi hati saya, tak ada lagi perasaan indah yang menghiasi kalbu saya. Saya memang mendapatkan kebahagiaan yang saya idamkan, tetapi sungguh kebahagiaan yang mahabesar yang seharusnya saya peroleh ... terbang jauh."
Catlya menghapus sisa beningnya. "Saya tak ingin itu terjadi padamu, Renita. Yang saya lakukan persis sama denganmu melalui tahap-tahap, mulanya dengan mengubah pakaian lalu akhirnya mengubah hidayah itu. Bukan saya bermaksud menuduh kamu. Tidak sama sekali." Catlya mengakhiri ceritanya.
Saya sendiri masih sibuk dengan pikiran saya, hingga... "Tapi, ada hal yang membingungkan saya. Kenapa sekarang kamu tidak berusaha mendapatkan hidayah itu lagi! Setelah semua ini, ya, kenapa?" tanya saya mencari jawabannya di mata basah itu. Catlya tersenyum dan membuang tatapannya.
"Banyak orang yang setiap detik menangisi kesalahannya, tetapi mereka tetap tidak mampu mengubah kesalahannya. Hidayah Allah memang mahal harganya. Maka bila kamu memperolehnya, peliharalah. ]angan pernah membiarkannya lepas," Catlya kemudian melangkah pergi, meninggalkan saya sendiri.
***************
Sebulan telah berlalu. Catlya tak pernah ada lagi. Entahlah. Catlya seperti menghilang begitu saja. Ia seakan sosok yang dihadirkan-Nya kepada saya untuk membuat mawar merah dalam hati ini mekar kembali.
Catlya, siapapun kamu, izinkan saya berkata : hidayah Allah memang mahal. Tapi bukan berarti kita tidak bisa meraihnya. Mengapa tidak mulai merajut benang-benang hidayah itu kembali? Insya Allah dengan tekad yang kuat, tidak hanya satu bahkan jutaan hidayah-Nya akan tercapai. Dan Catlya sayang, percayalah, bukan hanya dunia tetapi semesta raya akan membicarakanmu dengan pujian.
Pagi ini saya terduduk di halte. Membiarkan dua angkot biru kosong lewat begitu saja. Membiarkan angin sepoi-sepoi memainkan ujung rok hitam lembut yang saya kenakan.
(By : Yunita Meldasari)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home