SATU NADA CINTA UNTUK BUNDA
“Jadilah yang terbaik….
Itulah kata yang sering kudengan dari bundaku, ketika usiaku mulai bisa memaknai kata-katamu yang menggantikan sanjungan-sanjungan masa kecilku. Menggantikan dongeng-dongengmu. Masih kuingat satu kisah itu….
“Putri…. Lihat , bunda bawa apa untuk putri…
mata kecilku memperhatikan sesuatu di tangan bunda. Kulihat juga senyum bunda saat menghulurkannya untukku.
“ Satu buat Putri, satu buat bang Tio dan satu lagi buat bang Eda,” begitu kata bunda. Aku diam saja menerima pembagian itu. Meskipun dalam hatiku, aku menginginkan semua rambutan itu. Bunda mulai memperhatikan tatapan mataku. Setelah mengupas dua butir rambutan lainnya untuk kakakku, bunda beranjak menghampiriku….
“Putri mau lagi ?,” Tanya bunda.
Aku pun mengangguk. Bunda pun tersenyum ke arahku.
“Bunda hanya punya tiga rambutan. Untuk putri satu, bang Tio satu dan Bang Eda satu juga. Karena Putri punya dua abang, maka Putri harus bisa berbagi dengan bang Tio dan bang Eda, seperti yang pernah bang Tio dan bang Eda lakukan pada Putri,” Bunda mendudukkanku di pangkuannya. “Habiskan yang satu ini dulu. Putri nggak boleh lupa pada saudaranya. Makanya Putri harus bisa berbagi…..
usiaku yang masih empat tahun belum cukup bisa mengeja makna kata-kata bunda. Berbagilah… dengan siapapun yang membutuhkan. Karena dalam tiap detik hidup ini, kita tidak pernah sendiri. Kira-kira seperti itulah kata-kata bunda jika kumaknai sekarang.
Bang Eda sakit. Panasnya tinggi. Saat itu, bang Eda masih memakai baju biru putih. Dan sudah tiga hari ini bang Eda sakit. Kata orang, bang Eda ini orangnya mirip ayah. Suka “mendem” perasaan. Mungkin bang Eda kangen ayah. Begitu pikirku saat itu. Kuhampiri bang Eda pelan-pelan.
“Bang.. kata tetangga-tetangga itu, bang Eda kangen sama ayah. Bener gitu bang ?,” tanyaku dengan polos.
Bang Eda hanya tersenyum memandangku.
“Naiklah…..,” perintah Bang Eda. Aku menurut untuk naik ke atas ranjangnya. “Hmmm… abang memang kangen sama ayah. Tapi abang lenih kangen sama senyum bunda….
Aku merengut. “Bunda kan tiap hari tersenyum, bang….
Bang Eda mengangguk dan memelukku. Air matanya jatuh. Aku diam saja tak mengerti.
“Napa bang Eda nangis ?,” tanyaku lai. Bang Eda menggeleng cepat.
“Bang Eda nggak nangis. Sapa yang nangis…..,” jawabnya.
“Nah itu apa….,” kataku sambil mencolok air di wajah bang Eda.
Aku bingung. Bang Eda bilang, bang Eda kangen senyum Bunda. Padahal bunda tiap hari tersenyum. Kenapa bang Eda bicara seperti itu ??
Sepagi itu sudah kulihat bunda di dapur. Mataku masih mengerjab kecil-kecil. Kulihat bang Tio sedang menim,ba dan bang Eda menyetrika bajuku dan baju bang Tio. Aku bangga pada dua abangku. Mereka tidak menjadi anak laki-laki yang jahil dan nakal seperti yang lain. Padahal usia seperti abangku adalah usia anak nakal.
“Putri.. cepetan wudlu. Sudah siang, Put…..
Kudengar teriakan bang Tio. Aku segera beranjak ke kamar mandi. Sempat juga kulirik senyum bang Tio ku.
“bang Tio… Putri mau Tanya sama abang,” kataku sambil sarapan.
“Tanya apa, Put ?
aku diam sejenak. Bang Tio dan Bang Eda memperhatikanku.
“Hmm… sekarang Bang Tio kan dah kuliah. Bang Eda juga dah SMA. Trus… trus apa abang…
Aku diam lagi.
“Trus apa, Put ?,” Tanya bunda tiba-tiba.
“Putri ndak tahu ah… lupa !!,” kataku akhirnya.
“Eh bang…. Apa abang ndak malu disuruh jualan makanan ke sekolah ?,” tanyaku meluncur begitu saja. Semua terdiam memandangku. Bunda juga. Aku jadi salah tingkah.
“Putri… semua kan untuk kita sendiri. Lagian itu kan pekerjaan halal. Kenapa musti malu ?? sekalian belajar usaha sendiri. Iya kan bunda ?,” kulihat bunda tersenyum tertahan. Bang Eda yang memang perasa segera mengakhiri sarapannya. Dan berangkat ke sekolah.
Aku tetap diam. Bang Tio memandangku dan memberi isyarat bahwa aku harus segera berangkat.
Sore ini kulihat bang Tio sudah rapi dengan sarung dan baju kokonya. Tumben abangku yang satu ini pulang cepat. Biasanya paling awal pulangnya lepas maghrib. Itupun langsung ke masjid untuk isya’-an. Bang Tio menghampiriku yang sedang memperhatikannya diam-diam.
“Hayyooo.... kenapa memperhatikan bang Tio terus dari tadi ?,” tanya bang Tio setengah menggoda. Aku tersenyum melihat tingkah bang tio.
“Tumben Bang Tio dah pulang. Biasanya.....
“Itu karena bang Tio ingin bicara sama Putri,” jawab bang Tio cepat.
Aku hanya memandangnya tak mengerti.
“Putri ingat pembicaraan kita tadi pagi waktu sarapan ?,” tanya bang Tio. Aku mengangguk pelan. Ada sedikit rasa salah di hatiku. Bang Tio menarik nafas pelan.
“Hmm.... bang Tio harap hal itu nggak terjadi lagi. Bang Tio paham pertanyaan Putri. Putri tahu, bagi bang Tio, bunda adalah sosok yang paling hebat yang pernah abang tahu. Seandainya abang punya seratus jempol, itu pun nggak akan cukup untuk menggantikan kehebatan bunda. Mungkin Putri nggak tahu waktu ayah meninggal dulu. Bunda yang telah menggantikan posisi ayah. Bunda yang telah berhasil mendidik bang Tio dan bang Eda yang sedang nakal-nakalnya. Juga Putri yang masih kecil waktu itu. Dan seperti yang Putri lihat saat ini.... bunda berhasil menjadikan kita sebagai anak-anak yang patut dibanggakan,” bang Tio semakin dalam menatapku.
“Saat bang Tio bisa kuliah seperti saat ini atau bang Eda bisa sekolah di SMU 2 yang favorit itu dan Putri juga berhasil di SMP favorit juga, semua berawal dari gorengan itu, Put....
Aku diam. Bang Tio memandangku dan memegang pundakku erat.
“Sekarang Putri dah gede. Dan bisa bantu bunda dengan segala yang Putri miliki. Kalo bang Tio lagi tidak di rumah, Putri janji kan akan nemenin Bunda dan membantu Bunda ?,” kujawab pertanyaan itu dengan anggukan.
“Putri janji ?,” tanya bang Tio sekali lagi. Kali ini dengan uluran jari kelingkingnya. Dan sekali lagi aku mengangguk sambil melingkarkan jari kelingkingku juga......
25 April.....
Genap sudah 17 tahun usiaku. Sekarang Bang Tio dah nikah. Istri bang Tio cantik. Pake jilbab rapi. Sekarang putranya sudah satu. Bang Eda sekarang pun sudah kuliah di ITB.
Dan lebaran ini, kupeluk bunda dengan segenap perasaan yang kumiliki. Bunda mengenakan pakaian yang dibelikan bang Tio. Cantik sekali.
“Bang... bunda cantik ya,” godaku. Bunda hanya tersenyum.
“Ya jelas dong.... siapa coba yang memilih bajunya.... Bang Tio !!!,” ujar bang Tio.
“Huuu...... gaya tho’ !!! Bunda kan selalu cantik dan akan tetap cantik meskipun nggak pake baju bagus,” timpal bang Eda. “lagian.... yang beli baju paling-paling juga mbak Rini. Ya kan mbak ?,” bunda tertawa mendengar coleteh kami. Silih berganti aku, bang Tio dan bang Eda menggoda bunda.
Segaaaaaaaaarrrrrrr.........................
Kuhirup udara pagi ini dengan penuh kenikmatan. Alhamdulillah rumah sudah rapi. Bunda sedang belanja dengan mbak Rini. Farhat, anak bang Tio masih tidur.
“Put... sini bentar,” teriak bang Tio dari ruang tengah.
Setengah berlari aku menyambar jilbab dan berlari ke ruang tengah. Kulihat ada bang Eda juga di sana.
“Yahh.... Putri pikir akan dapat tambahan uang saku. Kalo ada bang Eda juga, berarti .....,” kalimatku berhenti menggantung.
Bang Tio dan bang Eda berpandangan sambil tersenyum.
“Duduk sini. Abang pengin bicara sama Putri dan Eda,” kuambil tempat di depan bang Tio pas.
“Hmm... mungkin pertanyaan ini bang tio ini, Putri lebih tahu jawabnya,” bang Tio membuka pembicaraan dengan menatapku. Aku diam tanda bertanya juga.
“Putri tahu apa keinginan bunda akhir-akhir ini ?,” tanya bang Tio.
Aku diam saja dan menggeleng pelan. Bang tio tersenyum.
“Gak pa-pa. Bang Tio hanya tanya aja kok. Bang tio tanya ke Putri karena Putri yang paling sering nemenin Bunda di rumah selama bang Tio di rumah dan bang Eda di bandung,” ujar bang Tio.
“Put.... bang Tio ingin, Putri bisa menemani dan memahami bunda. Apa keinginannya. Mimpinya. Karena Putri adalah orang yang paling dekat dengan bunda selama ini. Putri yang selalu ada bersama dalam kehidupan bunda. Bang Tio ingin seklai, kita, bang Tio, Eda dan Putri bisa mengisi setiap mimpi bunda yang tertunda. Sekarang, alhamdulillah kehdupan kita lebih baik,” mata bang Tio agak memerah.
Bang Eda hanya tertunduk dalam. Bang Edaku sekarang lain. Tampak lebih gagah dengan jenggot tipisnya. Kata orang-orang bang Eda sangat mirip ayah.
“Da... kamu juga. Kalo ada waktu sering-seringlah pulang. Jangan egois dengan mengkorupsi waktu untuk Bunda dan Putri. Sekali waktu ambillah cuti dari kegiatan kampusmu dan temani bunda sebisa mungkin. Kamu juga tahu kan kalo bunda dan Putri selalu butuh orang untuk diajak berbicara. Posisimu saat ini adalah posisi sebagai ayah, Da. Kamu juga ingat kan dengan At tahriim 6. pulanglah kalo memang ada waktu luang. Yang bang Tio tahu, kamulah orang yang paling disayang dan diperhatikan bunda. Tapi bukan bearti bunda pilih kasih. Itu semua karena sifatmu yang halus. Sifat dominan ayah menurun padamu. Jadi kamu jangan egois dengan mengkorupsi waktu untuk bunda.....
panjang bang Tio berbicara pada bang Eda. Bang eda hanya diam dan tertunduk dalam. Bang Eda nangis. Memang yang kutahu, bunda adalah sosok paling hebat yang pernah kumiliki. Sosok paling kuat bagi kami, putra-putrinya.
Masih kuingat tangis bunda saat pernikahan bang Tio. Bunda memeluk bang Tio erat-erat. Menciumnya. Bahkan sempat kudengar bunda berbisik meinta maaf pada bang Tio. Maaf karena bunda belum bisa memberi banyak pada Tio. Bunda hanya punya cinta untuk Tio dan Rini.....
Itulah bundaku. Bundaku yang hebat. Kuat dan .... sejuta julukan lagi untuknya. Aku bangga memiliki bunda sepertinya.
“Bunda ingin Tio, Eda dan Putri bisa menjadi anak-anak bunda yang hebat. Menjadi yang terbaik untuk smua. Bunda ingin kita semua, bunda, Tio, Eda dan Putri bisa selalu berbagi. Dengan siapa saja. Sekalipun kita pernah dilukai.
Selama ini bunda merasa bunda belum memberikan kalian kebahagiaan. Tapi kalian selalu berkata, “terima kasih bunda, atas semua kebehagiaan yang telah bunda berikan”. Eda selalu berkata, bunda adalah bidadarinya. Tio selalu meyanjung bunda dengan kata pahlamwan nya. Dan Putri selalu bilang, bunda adalah mutiara hidupnya. Bunda bener-benar bangga dengan gelar-gelar itu, sayang…..
Bunda selalu ingat dulu waktu kalian suka ngambek. Bunda sering tertawa sendiri kalo ingat saat itu. Sulit sekali bagi bunda untuk memberi pemahaman pada kalian tentang kepergian ayah kalian. Yang paling bunda rasakan adalah kemarahan Eda. Kemarahan Eda seperti menekannya. Sulit sekali bicara dengan Eda yang suka mendem itu. Harus pelan-pelan. Tapi bunda tidak akan lelah berkata, bunda bangga memiliki kalian sebagai mutiara hati bunda….
Jadi bunda ingin, bunda bisa selalu mengucapkan terima kasih pada kalian semua yang telah menjadi permata-permata bagi bunda. Bunda sayang kalian…..
Bunda
Tulisan itu, kuterima saat bunda ultah. Bunda sendiri yang menulisnya. Untukku, bang Tio dan bang Eda.
Kalo saja aku bisa mengungkapkan… aku ingin selalu berakata sayang pada bunda. Aku ingin selalu menjadikannya orang nomer satu yang kuhormati. Tapi akhirnya, memang ada yang harus lebih kuhormati saat ini.
“Lupakan bunda, sayang… sekarang sudah ada orang yang harus kau taati kata-katanya. Lebih kau hormati. Lebih kau sayangi. Bunda akan bahagia sekali melihat Putri juga bahagia. Putri tersenyum selalu. Tersenyum di atas kebahagiaan Putri sendiri. Maafkan bunda yang belum…
“Bunda… tidak !! Bunda telah memberi untuk Putri. Semua yang Putri tidak dapatakan dari orang lain, Putri dapatkan dari Bunda. Jadi bunda nggak boleh berkata maaf sama Putri,” jilabab bunda basah dengan air mataku. Bunda pun menagis memelukku. Allah….
“Putri harus taat pada Bimo. Dan Bimo… sekarang Putri bukan tanggung jawab bunda lagi. Dia sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu. Kamu boleh jewer dia kalo dia nakal atau bandel….
Kupeluk bunda dengan erat. Bang Tio, bang Eda. Sampai akhirnya tak satupun yang dapat kami ucap selain alhamdulillah.
Satu nada cinta untuk bunda memang tak akan pernah berhenti berdenting. Seperti halnya cinta kami untuknya, yang tak akan habis baginya. Banyak hal yang akan tetap kuingat dari bunda. Tatapannya, sentuhannya… Cintanya… peluknya… kesabarannya…. Semua yang pernah kurasakan dari seorang bunda. Sampai akhirnya semua kebahagiaan itu berakhir, masih saja kulihat senyum bunda yang berkata, aku sayang kalian…..
Arsya @ 25 jan’03
Segala keindahan utk bunda….

0 Comments:
Post a Comment
<< Home